Thursday, 17 December 2015

Peninggalan Zaman Megalitikum

Peninggalan zaman megalitikum berupa bangunan atau benda-benda besar yang terbuat dari batu. Hal ini sesuai dengan defenisi Megalitikum sebagai jaman batu besar. Peninggalan Bangunan megalithik didirikan untuk keperluan kepercayaan. Megalit adalah batu besar yang digunakan untuk membangun struktur atau monumen. Megalitik juga dapat didefenisikan sebagai struktur yang dibuat oleh batu besar. Secara etimologi, Megalit berasal dari kata dalam bahasa Yunani μέγας megas berarti besar, dan λίθος lithos berarti batu.

Kebudayaan Megalitikum bukanlah suatu zaman yang berkembang tersendiri, melainkan suatu hasil budaya yang timbul pada zaman Neolitikum dan berkembang pesat pada zaman logam. Setiap bangunan yang diciptakan oleh masyarakat tentu memiliki fungsi. Berikut ini beberapa peninggalan jaman megalitikum beserta gambar dan penjelasannya:

1. MENHIR

Menhir adalah bangunan berupa tugu/tiang batu yang berfungsi sebagai tempat pemujaan roh nenek moyang. Salah satu jenis menhir yaitu Menhir Maek.
Ciri-ciri Menhir Maek yaitu:
- Di Kecamatan Suliki, tepatnya di Kenagarian Maek, terdapat 72 kelompok menhir dalam berbagai bentuk dan ukuran.
- Ada yang berbentuk kepala binatang, pedang atau tanduk dan diukir dengan pola-pola yang menarik.
- Ukuran menhir terbesar di daerah Maek adalah 50 cm X 668 cm X 405 cm.

2. DOLMEN

Dolmen adalah bangunan berupa meja batu sebagai tempat meletakkan sesaji yang dipersembahkan bagi roh nenek moyang. Di bawah dolmen biasanya sering ditemukan kubur batu. Dolmen yang merupakan tempat pemujaan misalnya ditemukan di Telagamukmin, Sumberjaya, Lampung Barat. Dolmen yang mempunyai panjang 325 cm, lebar 145 cm, tinggi 115 cm ini disangga oleh beberapa batu besar dan kecil. Hasil penggalian tidak menunjukkan adanya sisa-sisa penguburan. Benda-benda yang ditemukan di antaranya adalah manik-manik dan gerabah. Dolmen banyak ditemukan di Jawa Timur dan Sumatera Selatan

3. PUNDEN BERUNDAK

Struktur bertingkat atau bersusun seperti candi dan digunakan sebagai tempat pemujaan roh nenek moyang. Punden berundak bukan merupakan “bangunan” tetapi merupakan pengubahan bentang-lahan atau undak-undakan yang memotong lereng bukit, seperti tangga raksasa. Bahan utamanya tanah, bahan pembantunya batu;menghadap ke anak tangga tegak, lorong melapisi jalan setapak, tangga, dan monolit tegak. Contoh : situs terluas, Gunung Padang, Jabar, ditemukan tahun 1979. Berada di puncak bukit berketinggian 885 m, terdiri atas lima undakan yang terluas diantaranya berukuran 28 x 40 m, menggunakan ribuan balok basal yang alami atau dibuat secara sengaja. ditemukan alat pecah belah sederhana terbuat dari tanah. Tidak ditemukan bukti adanya kuburan. Situs ini mungkin merupakan pusat penyembahan dengan monolit yang dinyatakan sebagai rumah leluhur. Arca Domas ‘sembilan undakan’, terletak di daerah Baduy, dan Lemah Duhur dengan lima undakan di ketinggian 1.000 m dpl. Ditempat lain tempat punden berundak dijumpai di Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Sumatera Selatan (Pasemah), dan Nias.

4. WARUGA

Waruga atau biasa disebut peti kubur batu yang berbentuk kubus atau bulat. Waruga adalah kubur atau makam leluhur orang Minahasa yang terbuat dari batu dan terdiri dari dua bagian. Bagian atas berbentuk segitiga seperti bubungan rumah dan bagian bawah berbentuk kotak yang bagian tengahnya ada ruang.

5. SARKOFAGUS

Sarkofagus adalah batu besar yang dibuat menyerupai mangkuk/bulat dua tangkup yang berbentuk seperti peti jenazah. Sarkofagus sering disimpan di atas tanah oleh karena itu sarkofagus seringkali diukir, dihias dan dibuat dengan teliti. Beberapa dibuat untuk dapat berdiri sendiri, sebagai bagian dari sebuah makam atau beberapa makam sementara beberapa yang lain dimaksudkan untuk disimpan di ruang bawah tanah. Sarkofagus banyak ditemukan di Bali.

6. KUBUR BATU

Kubur batu adalah bangunan berupa lempengan batu besar yang disusun membentuk kotak persegi panjang dan berfungsi sebagai peti jenazah.

Tuesday, 15 December 2015

Keunikan Megalitik Pasemah

Secara temporal, dapat dikatakan terdapat kesulitan besar dalam memahami kapan waktu yang jelas kebaradaan hasil kebudayaan megalitik ini bertempat di Pasemah. Beberapa orang menduga keberadaannya dimulai pada tahun 4000 SM[1]. Kristantina (2006), menyebutkan angka tahun 2.500 SM pada zaman perundagian dengan asumsi bahwa berdasarkan bentuk arcanya, jelas menggambarkan manusia yang hidup di Pasemah pada waktu itu. Arca-arca Pasemah dibuat dengan alat semacam pahat dari loga. Arca yang dipahatkan bukan gambaran wujud para dewa atau nenek moyang mereka, tetapi mereka sendiri dan mereka adalah penduduk asli, bukan pendatang dari luar Sumatera. Kemungkinan mereka lebih muda dari manusia goa yang diketemukan Gua Harimau, Desa Padang Bindu, Kecamatan Semidang Aji, OKU. Manusia Pasemah pendukung kebudayaan ini tidak pernah berpindah tempat dan arca batunya tidak terdapat ciri-ciri pertanda waktu dalam budaya Hindu seperti cakra atau sangka. Suryanegara (2010) menyebut angka tahun 2.000 SM.

Secara lokalitas kuantitas dan keragaman peninggalan megalitik ini Wiyana (1996) menginvetaris 19 situs megalitik di Pasemah baik secara mengelompok maupun sendiri. Suryanegara (2010) telah mengindentifikasi 52 arca megalitik di Pasemah. Dalam laporan Kompas (2009), disebutkan bahwa penemuan megalitik terbaru mengenai dua bilik batu di Desa Talang Pagar Agung yang ditemukan bulan Desember 2009. Namun berdasarkan laporan van der Hoop pada tahun 1932 terdapat dan dicatat lebih dari seratusan situs megalitik di Pasemah.  Situs-situs megalitik dataran tinggi Pasemah meliputi daerah yang sangat luas mencapai 80 Km².


Situs-situs megalitik tersebar didataran tinggi, dipuncak gunung, lereng dan ada yang dilembah. Arca-arca ini tersebar di kabupaten Lahat dan kota Pagaralam, seperti Karangindah, Tinggihari Gumai, Tanjungsirih, Padang Gumay, Pagaralam, Tebatsementur (Tanjungtebat), Tanjung Menang, Tengahpadang, Tanjungtebat, Pematang, Ayik Dingin, Tanjungberingin, Geramat Mulak Ulu, Tebingtinggi, Lubukbuntak, Nanding, Batugajah (Kutaghaye Lame), Pulaupanggung (Sekendal), Gunungmigang, Tegurwangi, Airpur, Tegurwangi (batu beghibu dan lain-lain), gunungmigang (batu rang, batu kitap dan lain-lain), Gunung kaye (batu bupean/kubus dan batu pidaran/dakon), simpang pelajaran (batu pidaran, dan lain-lain), situs Muarapayang (batu perahu, peti kubur batu dan lain-lain), Tanjung-aghe (batu jeme dililit ulagh, peti kubur batu dan lain-lain), Talangtinggi Gunung Dempo (peti kubur batu), Keban-agung (batu jelapang), Belumay (batu nik kuanci dan peti kubur batu), Tebingtinggi, Lubukbuntak (batu jeme) Nanding (batu gung), Geramat Mulak Ulu (batu bercoret), Semende (batu tapak puyang awak), Pagaralam-Pagargunung (batu ghuse, batu bekatak, dan lain-lain), Kuteghayewe (batu gajah, peti kubur batu, batu kursi dan lain-lain), Pulaupanggung, Impit Bukit (batu jeme ngilik anak) Pajarbulan, Tanjungsakti (batu tiang/menhir), Genungkerte, Tanjungsakti (batu kawah), Baturancing (batu kebau tanduk runcing) dan lain-lain. (Kherti, 1953: 30, Wiyana: 1996, Sukendar: 2003).

Usaha menguak misteri peninggalan megalitik Pasemah secara ilmiah, sudah dimulai sejak zaman dahulu. Pada zaman kolonial, arkeolog dan sejarawan dan pejabat kolonial pencinta sejarah berusaha mengungkapnya, mereka meneliti dan membuat laporan. Pada tahun 1850 dilakukan oleh Letnan L. Ullman tahun 1850 ia menghasilkan artikelnya "Hindoe-belden in binnenlanden van Palembang" yang dimuat oleh Indich Archief (1850), disusul Tombrink tahun 1870, Engelhard tahun 1891, Krom tahun 1918, Westernenk tahun 1922, dan Hoven tahun 1927. Laporan-laporan mereka menyimpulkan dan beranggapan bangunan-bangunan ini adalah peninggalan kebudayaan Hindu. Baru pada tahun 1929, van Eerde melaporkan dengan pendapat yang berbeda dengan angggapan-anggapan terdahulu. Ia menyatakan, bahwa peninggalan megalitik di Pasemah ini tidak pernah dipengaruhi oleh budaya Hindu, tetapi masih termasuk dalam jangkauan masa prasejarah. Bentuk megalitik tampak nyata pada peninggalan tersebut seperti pada menhir, dolmen, dan lain-lain.

Pendapat van Eerde ini kemudian mendapat sokongan dari laporan van der Hoop (1932) yang selama tujuh bulan melakukan penelitian mendalam dan mengungkapkan serta mempublikasikan lengkap dan luas megalitik di daerah tersebut. Ia menyebutkan bahwa ada tiga unsur pokok dalam batu-batu Pasemah yang membisu ini yaitu monumen besar, batunya utuh ( monolith ), masuk dalam budaya prasejarah, sehingga dari sini ia berkesimpulan bahwa batubatu Pasemah ini adalah benda megalitik. Bahkan untuk keperluan ilmiah dalam memecahkan misterinya, Kontrolir Palembang F.M. Schnitger meminta van der Hoop pada tahun 1932 agar memindahkan batu gajah berbentuk bundar ke dari Pagaralam ke Palembang yang beratnya lebih lima ton tersebut. Kemudian penelitian ini diikuti oleh peneliti-peneliti lain untuk menguak dan memecahkan misteri peninggalan megalitik tersebut.

Secara deskriptif, arca megalitik Pasemah umumnya digambarkan dalam wujud manusia yang biasanya bertubuh tambun, dengan bentuk tangan, kaki, perut, dan leher yang juga gemuk. Gambaran ini cenderung mencerminkan wibawa, keperkasaan dan kekuatan dari orang yang digambarkan.Bentuk arcanya membulat, mata bulat menonjol, jidat jorong yang kalau dilihat secara ras mengacu pada ras negrito, seperti orang Dravida Hindia. Umumnya badan manusia itu membungkuk dengan kepala berketopong menghadap ke depan atau agak menengadah dengan ilustrasi mengendarai, atau sebuah usaha menaklukkan hewan tunggangan atau hewan liar. Yang menarik aksesoris yang dipakai rata-rata bertutup kepala berbetuk topi baja. Memakai hiasan kalung, mengenakan gelang baik tangan maupun kaki dilengkapi dengan selembar kain penutup punggung dan karung atau nekara yang memuat busur panah atau senjata dari logam[2], serta pedang pendek. Menariknya, dari pahatan patung arca ini merupakan pengejawantaan langsung dari bentuk rupa sesungguh manusia Pasemah pada waktu itu. Bukan gambaran dewa seperti dalam agama Hindu. Pemakaian perhiasan yang dipahatkan pada arca mencerminkan sudah ada stratifikasi sosial pada waktu itu. Orang yang mempunyai status lebih tinggi dapat dibandingkan berdasarkan perhiasan yang dikenakannya.

Menariknya, dalam penggambaran arca megalitik ini tampaknya ada interaksi antara manusia dan hewan pada waktu itu. Situs Belumai ada deskripsi manusia menunggang kerbau, Situs Geramat mendeskripsikan manusia menunggang rusa, Situs Tanjung Telang mendeskripsikan manusia menggendong gajah, dan Situs Tanjung Aro mengilustrasikan manusia dililit ular. Arca-arca ini juga menggambarkan bentuk-bentuk binatang, seperti gajah, harimau, dan monyet. Arca batu gajah didepan gedung juang setinggi 90 cm memberi gambaran orang yang menunggang gajah. Mata gajah digambar besar. Penunggang gajah itu juga menyandang pedang di belakang. Tangan kiri memegang telinga, sedangkan tangan kanan memegang bagian lain. Arca batu gajah di situs Pulau Panggung menggambarkan seorang wanita menunggang gajah sambil menggendong dua anaknya di belakang dengan menggunakan kain. Tangan kanan memegang kepala gajah dan tangan kiri memegang pipi gajah. Hewan itu digambarkan dengan jelas pada bagian kepala, gading dan belalai, sedangkan bagian badan dan belakang tidak jelas karena tertutup oleh sosok wanita yang menungganginya. Sementara, Situs Tegur Wangi menggambarkan empat arca arca yang berjenis kelamin wanita dengan membawa sebentuk wadah di punggungnya dengan menunggang gajah. Salah satunya jelas terlihat gajah yang digambarkan sebatas pangkal belalainya, dengan mata yang besar. Batu gajah itu berasosiasi dengan empat batu besar yang mengelilinginya. Van der Hoop menyebut konfigurasi batu semacam itu dengan istilah tetralit (tetraliths).

Adanya konfigurasi tetralit ini yang menafsirkan bahwa keberadaan benda megalit di Pasemah ini berhubungan dengan media pemujaan roh nenek moyang, seperti halnya arca menhir (batu tegak). Selain batu gajah, di situs itu terdapat sejumlah tetralit lainnya, dolmen, batu datar, rumah batu, lesung batu dan menhir. Pendapat  van der Hoop tersebut sejalan dengan pengertian Poesponegoro (1982: 189), yang menyebutkan bahwa secara umum megalitik dibangun dan didirikan tidak luput dari latar belakang pemujaan nenek-moyang, dan pengharapan kesejahteraan bagi yang hidup, serta kesempurnaan bagi si mati.

Deskripsi lain tentang bangunan peninggalan megalitik Pasemah terlihat pada menhir yang biasanya berneutk sebuah batu tegak, yang sudah atau belum dikerjakan dan diletakkan dengan sengaja di suatu tempat untuk memperingati orang yang telah mati. Benda tersebut dianggap sebagai medium penghormatan, menampung kedatangan roh sekaligus menjadi simbol dari orang-orang yang diperingati. Biasanya, menhir berdiri tunggal atau berkelompok, membentuk formasi temugelang, persegi atau bujursangkar dan sering bersama-sama dengan bangunan lainnya, seperti batu datar, dolmen, peti kubur batu atau lainnya. Batu datar memiliki fungsi menaruh sesaji atau upacara pertanian dan perburuan. Bentuk dolmen memiliki variasi bentuk yang tidak berfungsi sebagai kuburan, tetapi bentuk-bentuk yang menyerupai dolmen, dibuat untuk pelinggih roh atau persajian. Dolmen, secara umum dalam pengertian Poesponegoro (1992: 196) berfungsi sebagai pelinggih dikalangan masyarakat megalitik yang telah maju serta digunakan sebagai tempat duduk oleh kepala suku atau raja-raja, dan dipandang sebagai tempat keramat dalam melakukan pertemuan-pertemuan maupun upacara-upacara yang berhubungan dengan pemujaan arwah leluhur. Hal ini jelas sekali memperlihatkan suatu kepercayaan bahwa yang masih hidup dapat memperoleh berkah dari hubungan magis dengan nenek moyang memalui bangunan megalitik tersebut sebagai medium. Sebagai contoh, limping batu (lesung batu) dan batu dakon, sering didapatkan di lading atau sawah dan di pinggir-pinggir dusun, yang penempatannya mungkin bertujuan untuk mendapatkan kekuatan magis.

Berdasarkan fungsinya ini, maka dapat dikatakan bawah pembauatan benda-benda megalitik Pasemah ini dilatarbelakang dan memiliki fungsi konsep-konsep kepercayaan atau keagamaan. Tetapi menariknya, konsepsi itu tidak mengikat dan tidak terlalu kaku dengan aturannya. Boleh dikatakan bahwa benda-benda megalitik Pasemah ini konsep pembuatannya berbeda dengan arca-arca dewa Hindu-Budha yang harus berdasarkan ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam buku ikonografi arca.

Seluruh peninggalan budaya prasejarah itu memberikan informasi bahwa pada masa lampau di daerah hulu Sungai Musi sudah terdapat hunian awal manusia, di daerah tepian sungai pada bidang tanah yang tinggi. Hunian yang lebih sedikit maju ditemukan di daerah kaki Gunung Dempo di sekitar kota Pagar Alam sekarang. Ada beberapa hal yang bisa dibayangkan pada masa lalu di zaman megalitik di Pasemah ini, dilihat dari penyebaran lokasi situs megalitik yang ada pada waktu itu, manusia Pasemah purba telah hidup mengelompok, setiap kelompok memiliki areal pemukiman sendiri-sendiri. Deskripsi pasukan gajah dengan pakaian dan genderang perang serta belati di pinggang membayangkan bahwa pada waktu itu manusia purba Pasemah ini telah melakukan perang. Perang dengan kelompok lain untuk mempertahankan area wilayahnya. Namun yang menarik bukan perang itu sendiri, tetapi telah meyakinkan kepada kita tentang sebuah pengorganisasan dan mobilisasi manusia di kelompok mereka tersebut pada waktu itu. Kelompok pemukiman ini dibentuk jelas berdasarkan kelompok keturunan mereka dan mungkin dari sini berawal apa yang disebut dengan istilah Jurai pada masyarakat Pasemah.

Kepala suku adalah jurai tue (jurai tua) dan anggota suku lainnya adalah jurai mude (jurai muda), maka dapat kita pahami siapa sebenarnya arca-arca yang dibuat dalam kebudayaan megalitik Pasemah tersebut, arca ini adalah perwujudan dari orang-orang yang sudah meninggal, nenek moyangnya. Pada saat pembuatan arca tidak lepas dari serangkaian upacara yang bersifat tradisional. Sifat-sifat tradisional disini diperoleh secara turun temurun seperti pembacaan mantra-mantra, doa-doa agar pembuatan arca dapat berjalan lancar dan arca dapat aman, teguh, berfungsi sebagimana mestinya. Pembuatan arca tidak mengikuti aturan-aturan yang mengikat, namun ada rambu-rambu tertentu yang harus diikuti oleh pemahatnya. Maka sebagai perwujudan jurai tue, yang tentu puyangnya, arca tersebut digambarkan dengan bentuk perkasa yang melambangkan kekuatan besar, seolah-olah ingin menguasai dan menaklukkan semua penantangnya. Jurai tue tentu memiliki kesaktian dengan menguasai binatang pada waktu itu, sehingga ia selalu digambarkan sedang mengapit, mengendarai atau menaklukan binatang tersebut.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa pembuatan arca ini dilakukan ketika tokoh yang digambarkan masih hidup, sehingga cenderung dipahatkan dengan penuh keagungan, kemewahan dan keperkasaan. Ketika kehidupan manusia mulai menetap dan membentuk kelompok-kelompok sosial berdasarkan asal keturunan masing-masing, maka pemujaan terhadap kekuatan-kekuatan alam tersebut dipersonifikasikan dalam bentuk yang lebih nyata dalam wujud arca tokoh-tokoh nenek moyang. Nenek moyang yang telah meninggal, arwahnya  akan senantiasa hidup. Kehidupan mereka sekarang sangat dipengaruhi oleh arwah nenek moyang seperti keamanan, kesehatan dan kesuburan dan lain-lain. Perlakuan baik diberikan kepada nenek moyang yang telah meninggal dengan harapan arwah nenek moyang memberikan perlindungan, sehingga generasi yang masih hidup terhindar dari ancaman bahaya.

Manusia purba Pasemah yang memiliki ras negrito ini, selain terhadap jurai tue juga menghormati pada jurai mude yang dianggap menonjol dan memiliki handil dalam memajukan kelompok sukunya. Tetapi kematian tokoh-tokoh jurai mude ini tidak diabadikan dalam bentuk arca, namun dibuat dalam kubur batu. Diatas kubur mereka diberi penanda sebagai penghormatan atas jasanya terhadap kelompok sukunya. Oleh karena itu, dolmen memainkan fungsinya, semakin besar dolmen di atas kubur batu mereka, maka semakin besar jasanya terhadap kelompok sukunya. Sampai sekarang, secara kuantitas berdasarkan tafsir ini dapat dikatakan bahwa diantara 52 bahkan seratusan lebih kelompok suku tersebut, tampaknya kelompok yang terbesar adalah kelompok Tegur Wangi.








[1] Secara ilmiah, sampai sekarang belum ada analisis tentang pertanggalan mutlak (absolute dating) yang dapat dilabelkan secara memadai mengenai angka tahun keberadaan situs megalitik di Pasemah ini, terutama mengenai arca batu-batu gajah. Boleh dikatakan kronologis situs-situs ini masih gelap dan simpang siur, kadang tumpang tindih dengan masa lainnya, misalnya masa Sriwijaya. Sampai saat ini teori Geldern tahun 1945 mengenai megalitik tua dan megalitik muda yang banyak diacu. Angka tahun 2.500 SM zaman megalitik muda dijadikan pedoman untuk arca batu gajah dan pahatan hewan lainnya, seperti kerbau, harimau, ular, kera, dan babi hutan. Sedang tahun 4.500 SM zaman megalitik tua pedoman untuk pembuatan peninggalan menhir, dolmen, teras berundak. Disinilah letak tumpang tindih kronologis tersebut. Yang kemudian ditambah oleh keberadaan nekara perunggu di punggung arcaarca ini dan mengacu pada zaman kebudayaan yang lebih muda lagi sezaman Kebudayaan Dongsong tahun 1.500 SM.
[2] Tafsir van der Hoop tentang pahatan arca misal batu gajah di Situs Kota Raya menggambarkan seorang prajurit menyandang nekara dan pedang akan pergi berperang dengan menunggang gajah. Nekara dilihat sebagai kettledrum, lebih spesifik lagi sebagai genderang perang! Artinya, nenek moyang mereka dulu ada yang menjadi prajurit pasukan gajah. Keberadaan nekara dalam deskripsi dan perwujudan arca megalitik ini ditafsirkan walaupun ada di zaman batu mereka berhubungan dengan kebudayaan Dongson, Vietnam.

Sunday, 13 December 2015

Fungsi Dan Peran Situs Gunung Padang

Situs megalitik Gunung Padang memiliki kemiripan konstruksi dengan situs Lemah Duhur di Cianjur dan situs Arca Domas di daerah Banten, Jawa Barat serta marae yang umum dijumpai di kawasan Kepulauan Pasifik. Berdasarkan kemiripan konstruksi tersebut, dapat diperkirakan bagaimana peran dan fungsi situs Gunung Padang bagi masyarakat pembuatnya dengan bertolak pada fungsi situs Lemah Duhur, situs Arca Domas, dan marae.

Punden berundak Arca Domas atau Sasaka Domas bagi komunitas Baduy di Banten, Jawa Barat merupakan tempat pemujaan yang disakralkan dan hanya boleh dimasuki setahun sekali pada bulan Kalima atau pada saat upacara muja. Upacara muja dilaksanakan setiap tanggal 16, 17, dan 18 pada bulan Kalima penanggalan Baduy. Awal prosesi upacara dilakukan pada pagi hari tanggal 17 bulan Kalima di teras pertama. Upacara tersebut dipimpin oleh puun Cikeusik dengan membacakan mantra-mantra dan doa-doa tertentu sampai tengah hari, kemudian dilanjutkan dengan membenahi pelataran dan susunan batu yang berserakan hingga ke puncak teras. Begitu sampai di bagian puncak, peserta ritual upacara kemudian menyucikan muka, tangan, dan kaki pada sebuah batu lumpang yang disebut Sanghyang Pangumbaran. 

Sebagai tempat sakral atau kabuyutan bagi masyarakat Baduy, Arca Domas terletak di bagian paling selatan atau paling ‘dalam’ dalam sistem orientasi kampung Baduy (perhatikan Gambar 8). Letaknya sebagai kabuyutan tersebut juga menyebabkan masyarakat Baduy meyakini bahwa Arca Domas merupakan tempat berkumpul para karuhun atau roh-roh leluhur mereka. Hal ini menyerupai kepercayaan animisme dimana roh leluhur berada di tempat tinggi seperti bukit atau gunung, dalam hal ini kabuyutan tempat Arca Domas berada. 

Situs Lemah Duhur merupakan bangunan megalitik berundak yang terletak di Desa Sukajembar, Cianjur pada sebuah dataran tinggi setinggi 941 meter di atas permukaan laut. Situs ini terdiri dari lima teras dan berorientasi utara-selatan. Teras I terletak di bagian selatan, sementara Teras V yang merupakan teras paling tinggi terletak di utara. Seperti pada situs Gunung Padang, teras-teras pada situs Lemah Duhur semakin ke atas ukurannya semakin mengecil. Halaman Teras I dan II merupakan halaman yang paling luas dibandingkan dengan teras-teras atas.    

Perbandingan Letak Punden Berundak Arca Domas dengan Pemukiman Baduy dan Situs Gunung Padang dengan Desa Karyamukt.

Dalam Peninggalan Tradisi Megalitik di Daerah Cianjur, Jawa Barat (2001), Haris Sukendar mengemukakan hipotesis bahwa halaman Teras I dan II digunakan sebagai tempat berkumpul bagi pengikut upacara pemujaan pada situs Lemah Duhur, baik yang mencakup upacara pertanian atau upacara lain, seperti upacara pertanian yang dilakukan oleh masyarakat Kanekes di daerah Banten Selatan, Jawa Barat. Teras III pada situs Lemah Duhur memiliki beberapa bangunan dari batu kali yang disusun dari batu-batu kali membentuk persegi panjang (kemungkinan menyerupai struktur I dan II pada situs Gunung Padang), dan oleh Haris Sukendar diasumsikan sebagai tempat musyawarah masyarakat Megalitik pada masa itu. 

Bagi masyarakat Polinesia, marae merupakan tempat yang disakralkan dan memiliki dua fungsi, yaitu fungsi sosial sebagai tempat pertemuan suku sekaligus fungsi religius sebagai tempat pelaksanaan upacara yang berkaitan dengan kepercayaan mereka. Sementara itu marae dalam kebudayaan masyarakat Maori di daerah Selandia Baru merupakan istilah bagi lapangan yang dipagari yang terletak di depan wharenui (berarti “rumah besar”; merupakan bangunan tempat berkumpul masyarakat Maori). Marae merupakan tempat dilangsungkannya powhiri, yaitu upacara penyambutan yang menampilkan pidato, dan juga kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan kebudayaan dan kepercayaan masyarakat setempat seperti upacara pernikahan atau upacara kematian. 

Berdasarkan fungsi situs Lemah Duhur, situs Arca Domas, dan marae tersebut, situs Gunung Padang bagi masyarakat primordial Sunda kemungkinan berfungsi terutama sebagai tempat upacara pemujaan sekaligus tempat berkumpul bagi para tetua adat. Asumsi tersebut diambil berdasarkan pemikiran berikut: 

1. Masyarakat Baduy yang membangun situs Arca Domas dan masyarakat pembangun situs Gunung Padang merupakan masyarakat Sunda yang memiliki basis pola pikir dan sistem kepercayaan yang serupa. Baik Arca Domas maupun situs Gunung Padang didirikan di sebuah bukit, dan pada teras teratas terdapat obyek yang dianggap sakral (Arca Domas pada situs Arca Domas dan Batu Tahta pada situs Gunung Padang). Berdasarkan hal tersebut, dapat diasumsikan bahwa situs Gunung Padang memiliki fungsi sebagai tempat pemujaan bagi masyarakat pembuatnya.

2. Situs Lemah Duhur dan situs Gunung Padang sama-sama terletak di daerah Cianjur dan keduanya memiliki arsitektur serupa, dan seperti situs Arca Domas, situs Lemah Duhur dan situs Gunung Padang juga didirikan pada tempat tinggi. Berdasarkan hal tersebut, ada kemungkinan bahwa masyarakat pembangun kedua situs tersebut merupakan masyarakat Sunda primordial dari era yang sama dengan pola pikir dan sistem kepercayaan yang seragam. 

3. Masyarakat Sunda primordial yang membangun situs Gunung Padang merupakan bagian dari masyarakat pendukung tradisi Megalitik yang terdiri dari bangsa Austronesia, Melayu Polinesoide, dan Papua Melanosoide. Masyarakat Polinesia dimana marae banyak ditemukan merupakan bagian dari bangsa Austronesia. Adanya kemiripan konsep dan pola pikir antar masyarakat Sunda dan masyarakat Polinesia cukup besar, sehingga dapat ditarik asumsi bahwa fungsi situs Gunung Padang yang memiliki konstruksi serupa dengan marae adalah sebagai tempat berkumpul tetua adat.

Friday, 11 December 2015

Sejarah Suku Sumba dan Megalitikum

Penelusuran mengenai asal usul suku-suku di Kepulauan Nusantara berdasarkan bahasa/linguistik menunjukkan kemiripan bahasa Proto-Austronesia yang mencakup wilayah Semenanjung Malay, Vietnam Selatan, Taiwan dan Kepulauan New Guinea. Selain itu, dari segi bentuk rumah panggung, atap dan ornament atap di Kepulauan Nusantara juga memiliki kemiripan. Kemiripan tersebut bila ditelusuri, mengarah pada kebudayaan Dong-Son yang berkembang di Vietnam Selatan di jaman perunggu (Waterson, 1990).

Mengenai asal usul dan kehidupan di Pulau Sumba banyak dikaitkan dengan situs dari masa pra-sejarah yang ditemukan di Melolo, Sumba Timur. Melolo merupakan situs kuburan kuno yang diperkirakan dari masa prasejarah, terdiri dari periuk dan tempayan yang  berisi tulang manusia, diantaranya juga berisi beliung atau pahat batu persegi empat (rectangular stone adze). Dari temuan tersebut, didapati ciri-ciri kehidupan jaman Neolitikum. Gelombang pendatang selanjutnya berasal dari Indocina yang disebut ras Melayu Muda. Ras tersebut telah mengenal pembuatan senjata, pertukangan dan benda-benda upacara, termasuk juga rumah panjang bertiang (rumah panggung), kain dan pendirian bangunan dengan batu besar yang merupakan ciri budaya Megalitikum sehingga dimulailah budaya Megalitikum di Sumba. Selanjutnya, Pulau Sumba masih didatangi oleh gelombang pendatang baru, termasuk dari Jawa di Jaman Majapahit sehingga terjadi asimilasi budaya.

Sistem kepercayaan Suku Sumba berdasarkan pada kepercayaan Marapu. Kepercayaan Marapu masih dipegang hingga kini meskipun beberapa penduduk telah memeluk agama lain seperti Kristen dan Islam. Marapu dapat dijelaskan sebagai suatu sistem kepercayaan masyarakat yang mempercayai bahwa arwah nenek moyang atau leluhur yang telah meninggal tetap hidup ditengah-tengah mereka dan dapat meminta perlindungan dan berkah (Topan, 2005). Inti kepercayaan Marapu adalah kepercayaan akan adanya wujud Ilahi yang dinamakan “Mawolu Marawi” atau “Pencipta segala sesuatu” yang berkuasa atas hidup matinya manusia serta seluruh alam dan iman atau leluhur (Tim Peneliti Jurusan Arsitektur Universitas Widya Mandira, 1992).

Kepercayaan Marapu sangat berpengaruh pada seluruh aspek kehidupan Suku Sumba, termasuk penataan desa dan arsitektur rumah tinggal. Melalui kematian, orang mati menjadi roh-roh yang tetap berdiam di desa dan menjadi bagian dalam kehidupan di desa (Mross, 1995). Sehingga kekhususan yang dapat dilihat dari desadesa di Sumba adalah berbaurnya area pemakaman dengan lingkungan hunian, manusia dan rumah (Waterson, 1990). Selain itu, roh nenek moyang akan dipanggil kembali ke rumahnya melalui upacara khusus. Roh tersebut dipercaya tinggal di bagian atap limas yang menjulang tinggi. Tempat tersebut tidak diperbolehkan dihuni oleh orang hidup dan digunakan untuk meletakkan benda-benda pusaka leluhur (Geirnaert, 1989).

Pemberian ruang khusus untuk pemujaan Marapu juga terdapat di ruang tengah rumah. Ruang tersebut disebut Mata Marapu atau penabakul, pada umumnya terletak pada sudut depan rumah yang berseberangan dengan pintu masuk (gambar 2.4). Selain ruang tersebut, terdapat tiang utama rumah yang menjadi tempat berhubungan dengan Marapu yang melambangkan laki-laki dewasa sehingga istri dan menantu perempuan tidak diperkenankan memegang tiang tersebut (Topan, 2005).

Menurut Kusumawati, dkk. (2007), sistem kepercayaan Sumba membagi dunia menjadi 3 bagian, yaitu dunia atas sebagai tempat para dewa dan arwah leluhur, dunia tempat kehidupan manusia dan dunia bawah sebagai tempat hewan. Kepercayaan ini diwujudkan dalam pembagian ruang rumah secara vertikal, bagian menara (uma deta) melambangkan dunia atas, ruang dalam rumah (uma bei) sebagai tempat kehidupan dan kolong (kali kambunga) sebagai tempat hewan. Dunia atas terbagi dalam 7 lapisan yang digambarkan pada 7 lapisan ikatan gording pada menara (uma deta). Bumi digambarkan menjadi 6 lapisan yang diwujudkan pada tata ruang dalam rumah adat (gambar 2.5), yaitu:
  1. Uma dalo, lapisan teratas tempat menyimpan bibit dan bahan makanan yang unggul.
  2. Pedambahano, loteng panas diatas para-para api.
  3. Pedalolo, loteng tempat menyimpan makanan sehari-hari.
  4. Katedeng, tempat duduk dan tidur penghuni rumah.
  5. Tabolo, balai pertemuan.
  6. Katonga tana, balai untuk pijakan kaki sebelum memasuki rumah.

Wednesday, 9 December 2015

Pembahasan Terhadap Temuan Sekitar Bangunan Pasir Karamat

Ditemukannya batu kursi yang letaknya agak berjauhan dengan bangunan Pasir Karamat membuat kajian terhadap bangunan Pasir Karamat makin menarik, bahkan masyarakat setempat pun mengeramatkan batu kursi tersebut. Hasil wawancara dengan penduduk setempat yang bernama Pak Appay berumur 57 tahun, memperjelas pernyataan bahwa memang batu itu dianggap keramat, beliau juga mengatakan walaupun tanah di sebelahnya akan dibangun rumah, tetapi tetap saja batu tersebut tidak dipindahkan atau dihilangkan. Bahkan orang yang membangun rumah didekatnya sangat menghormati batu tersebut, dan berencana untuk memasang pagar di sekeliling batu itu.

Keberadaan batu kursi dapat disaksakikan pula di berbagai tempat seperti di Nias, situs megalitk Terjan (Kecamatan Krangan, Kabupaten Rembang). Dalam situs tersebut ditemukan sekitar 20 buah kursi batu (Sukendar, 1986:61). Batu kursi ditemukan pula dalam situs punden Pangguyangan  pada teras IV. Ditemukan pula batu yang berbentuk seperti singasana di situs Penanggungan pada teras puncak bangunannya.


Tidak hanya di dekat Pasir Karamat saja yang berada batu kursi, di sisi barat bangunan berundak Surawisesa ditemukan pula batu tersebut. Batu itu terletak di tengah sawah, dan berukuran panjang sekirar 5,6 cm, dan tingginya 3 m. Batu kursi tersebut juga dikeramatkan oleh penduduk setempat, dan tampaknya batu itu sepertinya tidak berasosiasi dengan bangunan berundak Surawisesa, dikarenakan letaknya yang agak berjauhan. Batu kursi yang yang letaknya agak berjauhan dengan bangunan Pasir Karamat memiliki 2 cekungan yang mungkin dibuat dengan sengaja, bukan alami, serta terdapat goresan memanjang pada bagian samping senderan kursi (Munandar, 2007: 24). Bangunan berundak Surawisesa tersebut juga termasuk dalam wilayah kepurbakalaan Sindangbarang.

Kepentingan pendirian batu kursi tersebut mungkin ditujukan untuk keperluan upacara. Argumentasi tersebut sesuai yang dikatakan oleh salah satu dari ahli megalitik, yaitu kursi batu yang ditemukan di sekeliling bangunan rupanya erat hubunganya dengan pemujaan arwah nenek moyang, dan difungsikan sebagai tempat duduk bagi arwah, dan memang batu tersebut berhubungan dengan upacara-upacara. Adapun Perry juga mengatakan fungsi dari batu-batu yang berbentuk seperti kursi berfungsi sebagai tempat untuk melakukan sesajian, dan tempat duduk sementara bagi dewa-dewa yang turun ke bumi untuk menemui para pemujanya (Perry, 1918: 32 dalam Sukendar, 1986: 62-63).

Ditemukannya pula di arah utara dari bangunan Pasir Karamat, sebuah batu monolit yang berbentuk seperti menhir yang dalam posisi rebah (lihat foto 12 dan foto 24). Penduduk setempat mengeramatkan batu itu, seperti halnya batu kursi tersebut. Monolit yang berbentuk seperti menhir rebah tersebut digunakan juga sebagai data untuk mendukung bangunan Pasir Karamat sebagai tingalan tradisi megalitik.

Persebaran temuan kepurbakalaan megalitik di kaki-kaki gunung banyak ditemukan di wilayah Jawa Barat. Salah satu contohnya, yaitu seperti yang terlihat pada persebaran situs-situs megalitik, yang berada di kaki Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan (Kosasih, 1986:27-28). Hal serupa terjadi juga pada keletakan kepurbakalaan Sindangbarang yang berada di kaki Gunung Salak.

Tuesday, 8 December 2015

Pengkajian Kepurbakalaan Sindangbarang Melalui Tulisan Sunda Kuno

Untuk mendapatkan sebuah penjelasan seutuhnya dari sebuah benda, maupun bangunan masa lampau, tidak bisa melalui wawancara langsung terhadap masyarakat pendirinya, karena telah tiada. Maka pengkajian benda yang berasal dari masa lampau dapat melalui sumber-sumber tertulis yang saling berhubungan. Dalam masalah identifikasi bangunan Pasir Karamat yang termasuk dalam wilayah  Sunda, maka sumber tertulis yang berhubungan dengan sejarah Sunda kuno, sangat dibutuhkan dalam tahap ini (Munandar, 2007: 55). Sumber tertulis tersebut dapat berupa naskah, cerita rakyat, legenda, mitos, atau tuturan lisan (pantun).

Aksara Sunda.

Telaah mengenai wilayah-wilayah Kerajaan Sunda juga sangat penting, maka dengan mengkaji wilayah Kerajaan Sunda beserta peninggalan di dalamnya, mungkin saja dapat diketahui apakah bangunan berundak Pasir Karamat memiliki hubungan dengan Kerajaan Sunda (masa klasik). Langkah pertama pengkajian bangunan Pasir Karamat melalui sumber tertulis adalah terlebih dahulu mencari sumber tertulis yang berkaitan dengan wilayah Sindangbarang. Diharapkan melalui sumber tertulis, kepurbakalaan Sindangbarang mendapatkan penjelasan yang cukup konkrit sehingga menghasilkan sebuah jawaban.

Dalam sumber tradisi soendalandshistorie dipaparkan nama-nama daerah yang tercakup ke dalam wilayah Kerajaan Sunda, yaitu Cirebon Larang, Cirebon Girang, Sindangbarang, Suka Pura, Kidang Lamotan, Galuh, Astuna Larang, Tajeknasing, Sumedanglarang, Ujang Mubara, Ajong Kidul, Kamuning Gading, Pancakaki, Tanjung Singguru, Kalapa, Banten Girang, Pulasari, dan Ujung Kulon. Beberapa nama daerah lainnya diketahui setelah kerajaan Sunda runtuh (Suka Pura, Sumedang Larang). Nama Sindangbarang disebutkan dalam sebuah sumber tradisi Sunda, sehingga hal tersebut tentu memungkinkan kepurbakalaan Sindangbarang memiliki hubungan dengan Kerajaan Sunda.

Sumber tertulis Sunda kuno menceritakan tentang perpindahan pusat pemerintahan Kerajaan Sunda yang semula di Kawali (Ciamis), lalu berpindah ke Pakwan Pajajaran (Bogor). Hal tersebut terjadi pada masa pemerintahan Sri Baduga Maharaja/ Ratu Jaya dewata (1428-1521 M). Pakwan Pajajaran tersebut merupakan nama tempat persemayaman raja-raja Sunda, yang akhirnya berhasil direbut oleh tentara Islam dari Banten dalam tahun 1679 M, padahal pada abad 14 M raja-raja Sunda masih ada yang tetap bersemayam di Kedaton Surawisesa yang ada di Ciamis (Munandar, 2007: 28). Sedangkan arti kata dari Pakwan Pajajaran itu sendiri adalah: (pa + kuwu + an = tempat orang memerintah: Pajajaran = bangunan yang berdiri berjajar) yang apabila ditafsirkan dapat berartikan istana yang berjajar” (Munandar, 2007:31).
Kedekatan keletakan Kampung Sindangbarang dengan Kota Bogor, memperkuat kemungkinan bahwa ada hubungan erat antara wilayah kekuasaan pusat pemerintahan Kerajaan Sunda di Bogor, dengan keberadaan kepurbakalaan di Sindangbarang. Kemungkinan tersebut didasarkan dugaan pada Kota Bogor sebagai tempat berdirinya Panca Prasadha, yaitu yang mempunyai arti 5 bangunan keraton yang berjajar (Munandar, 2007: 34-35).

Dalam uraian Cerita Parahyangan, diceritakan raja dari Kerajaan Sunda yang bernama Rakeyan Darmasiksa atau Jayabhupati (dianggap penjelmaan wisnu) membangun tempat-tempat suci di sekitar wilayah kekuasaanya atas petunjuk dan ajaran para Wiku (pemuka agama) (Munandar, 2007: 35). Berdasarkan tempat pemerintahan Jayabhupati yang diduga berada di Panca Prasadha (Bogor), mungkin saja kepurbakalaan di Sindangbarang merupakan salah satu dari bangunan-bangunan suci yang didirikannya, dan pembangunannya mengikuti konsep punden berundak. Ataupun berkemungkinan bangunan kepurbakalaan yang terdapat di Sindangbarang mungkin berasal dari masa yang jauh sebelumnya (prasejarah), lalu digunakan kembali oleh Jayabhupati, dan difungsikan sebagai bangunan suci, sesuai dengan fungsi aslinya. Tentu hal itu memperlihatkan hubungan antara konsep religi tradisi megalitik yang animisme dengan keagamaan Sunda kuno yang menyembah Karuhun.

Kemungkinan kepurbakalaan Sindangbarang merupakan hasil dari bangunan Kerajaan Sunda makin besar, apabila melihat isi dari Pantun Curug Sipadaweruh Bogor. Pantun tersebut menceritakan Darmasiksa mendirikan undakan suci di Lembur Taman, lalu kemudian beliau dijuluki Prabu Wisnubarata. Adapun satu pantun lagi yang bercerita tentang Lembur Taman, yaitu Pantun Dedeg Pati Jaya Perang, yang juga berasal dari Bogor. Isi Pantun menceritakan banyak orang yang pergi bertapa di undakan-undakan suci Lembur Taman. Nama Lembur Taman adalah nama lama dari wilayah Sindangbarang (Munandar, 2007: 60-61). Cerita pantun tersebut, sangat mirip apa yang terjadi  pada situs Pangguyangan, punden berundak yang mempunyai sebutan “Gentar Bumi” pada malam Kliwon digunakan para pengunjung untuk memohon sesuatu, seperti minta datang jodoh, dan kesembuhan atas penyakit (Soejono, 1993:225).

Menurut seseorang budayawan Sunda yang bernama Anis Djatisunda, ada beberapa Pantun Bogor yang menceritakan tentang Kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran banyak mendirikan bangunan suci, salah satunya ialah uraian dalam Pantun Gede yang mengisahkan Curug Sipada Weruh. Uraiannya mengatakan salah satu bangunan sucinya dinamakan Balay Pamunjungan, bangunan itu berupa undakan-undakan, bukan merupakan bangunan tertutup yang mempunyai bilik sebagaimana layaknya candi-candi. Bangunan tersebut merupakan tempat untuk memulaikan Hyang Agung.

Dalam Kerajaan Sunda adapula bangunan suci yang bukan merupakan bangunan suci kerajaan, bangunan demikian disebut Balay Pamujan. Balay Pamujan berupa punden berundak yang teras-terasnya diperkuat dengan susunan batu, dan tanah sehingga datar (Djatisunda, 2008:10 dalam Munandar, 2008: 10-11).

Berdasarkan sumber-sumber tertulis yang sudah diuraikan, ternyata tidak ada sumber tertulis yang menceritakan konkrit dan spesifik tentang keberadaan kepurbakalaan di Sindangbarang. Sumber tertulis tersebut umumnya hanya menceritakan tentang kronikal dari Kerajaan Sunda, yang meliputi konsepsi keagamaannya, dan bangunan sucinya saja. Hal itu mungkin bukan karena tidak ada sumber tertulis yang menceritakannya, tetapi sumber tertulis yang menceritakan langsung tentang kepurbakalaan Sindangbarang belum ditemukan.

Menurut Munandar (2007: 54), bangunan pada punden berundak yang hanya dibuat dengan dari bongkahan-bongkahan batu alami untuk penahan tiap-tiap teras menunjukkan kesederhanaan untuk kepentingan pemujaan. Hal tersebut memperlihatkan  konsep ajaran agama Sunda kuno yang tidak terlalu mementingkan kemegahan bangunan sucinya. konsep itulah mungkin yang menjadi penyebab bangunan hasil dari Kerajaan Sunda tidak semegah candi Hindu-Buddha. Pernyataan itu tentunya selaras dengan  keadaan arsitektur kepurbakalaan Sindangbarang maupun bangunan Pasir Karamat yang merupakan bangunan terbuka dan tidak mempunyai ruang.

Uraian-uraian pada bab ini memperlihatkan bangunan Pasir Karamat mempunyai berbagai macam kemiripan dengan punden berundak. Kemiripannya dapat terlihat dari segi arsitektur, maupun konsep pendirian bangunannya.  Maka dari itu pengkajian terhadap bangunan Pasir Karamat memfokuskan penelitiannya dari segi fitur bangunannya. Perbandingan utama yang digunakan adalah dengan membandingkan dengan arsitektur dari punden berundak yang telah diteliti, sedangkan sumber tertulis tersebut digunakan sebagai data penunjang pengkajian. Diharapkan pada bab berikutnya dapat menimbulkan sebuah eksplanasi yang berdasarkan hasil dari analisis data pada bab ini, sehingga keberadaan bangunan Pasir Karamat dapat dikemukakan secara ilmiah.  

Monday, 7 December 2015

Perbandingan Bangunan Pasir Karamat Dengan Sengkedan di Persawahan Sekitar Kampung Sindangbarang

Bangunan berundak Pasir Karamat apabila dilihat sekilas, bentuk pembangunannya serupa dengan sengkedan, mungkin hal itu disebabkan oleh masih banyak rumput liar, ilalang-ilalang, dan sebuah pohon besar yang menutupi permukaan bangunan, yang membuat sulit untuk diamati. Hal tersebut mendorong untuk melakukan peninjauan kembali dengan cara membandingkan bangunan Pasir Karamat dengan sengkedan. Perbandingan tersebut yaitu:

Bangunan Pasir Karamat memiliki lebar yang tiap terasnya terlalu luas apabila difungsikan sebagai pengaliran air ke bawah, akibatnya air tidak ke bawah tetapi akhirnya menggenang di tengah teras. Maka dari itu sangat sulit, dan tidak efektif apabila bangunan Pasir Karamat digunakan sebagai sengkedan, bahkan luas perteras bangunan tersebut lebih luas dibandingkan dengan sengkedan sekitar Desa Pasir Eurih. Bangunan Pasir Karamat tidak digarap sebagai tempat persawahan, sedangkan bangunan undakan di sekitarnya digarap sebagai persawahan. Adapun bangunan Pasir Karamat pada teras II terdapat sebuah makam yang terdiri dari susunan batu kecil, dan pada teras VII terdapat monolit yang mirip dengan dolmen, maupun pada teras IX ada monolit yang mirip dengan bentuk menhir. Keberadaan makam, dan monolit itulah yang dijadikan alasan kuat bahwa bangunan Pasir Karamat bukan merupakan sengkedan.

Sumber airnya berada di bawah teras I Bangunan Pasir Karamat, apabila dilihat dari segi itu jelas terlihat bangunan Pasir Karamat tidak digunakan sebagai pengairan sawah, karena apabila benar digunakan sebagai pengairan, seharusnya aliran dari sumber mata air tersebut letaknya di atas bangunan Pasir Karamat, sedangkan letak sumber air tersebut terletak di bawah. Tidak mungkin masyarakat yang menggarap persawahan tersebut berkesulitan mengambil air dari atas bangunan tersebut untuk mengairi sawahnya, apabila ada sumber air itu di bawah.

Keletakan bangunan Pasir Karamat cukup berjauhan dari pemukiman penduduk setempat. Apabila memang tujuan pembangunan bangunan tersebut sebagai sarana mencegah longsor, di daerah sekitar bangunan Pasir Karamat tersebut seharusnya ada sebuah pemukiman atau perumahan, tetapi nyatanya tidak ada. 

Berlimpahnya bebatuan di Kampung Sindangbarang, menjadikan bebatuan sebagai sumber bahan baku utama dari alam untuk pembangunan kepurbakalaan megalitik di wilayah tersebut, hal tersebut memperlihatkan masyarakat lampau Sindangbarang sangat memanfaatkan potensi alam sekitarnya. Hal tersebut sangat terlihat dari beberapa kepurbakalaan yang disaksikan di kampung Sindangbarang, yang seluruhnya berbahan baku bebatuan. Pemilihan bahan baku dari sumber alam lainnya belum terlihat di wilayah Sindangbarang, Pemilihan bahan tersebut bukan dikarenakan kekurangan bahan baku sumber alam lainnya masyarakat terdahulu Sindangbarang, tetapi mungkin masyarakatnya tidak memerlukan bangunan yang megah untuk kepentingan keagamaan, yang terpenting konsep pemujaanya tersalurkan maka dari itu masyarakat yang menghuni wilayah tersebut hanya menggunakan potensi alamnya saja. Ataupun ada kemungkinan pada saat bangunan kepurbakalaan didirikan, bangunannya tidak tampak seperti sekarang, mungkin ada beberapa bagian-bagian bangunannya yang telah hilang atau rusak Kerusakan tersebut sampai sekarang belum dapat diketahui, karena belum ditemukan bukti yang mendukung, dan mengingat bangunan kepurbakalaan Sindangbarang belum dilakukan ekskavasi.

Ciri-ciri berupa dinding batu bertingkat-tingkat yang meninggi ke belakang masih menjadi ciri pengenal terpenting untuk membedakan punden berundak dengan jenis bangunan purbakala lainnya. Pengkajian bangunan Pasir Karamat tidak berhenti sampai disini, keberadaan bangunan tersebut juga akan dihubungkan dengan sumber-sumber  tertulis yang bersangkutan, demi mencapai penjelasan seutuhnya dari bangunan tersebut.